Kamis, 07 Mei 2015

Dinamika Nutrisi Hewan

Ibarat sedang diwawancarai dengan pertanyaan "Bagaimana perasaan Anda saat ini?" maka akan saya jawab singkat "Galau!"
Bukan, ini tidak seperti apa yang dirasakan anak muda masa kini karena bermasalah dengan pacar, calon gebetan, mantan kekasih, ataupun mantan calon pacar. Selama belajar di dunia nutrisi dan pakan ternak, baru pertama kali rasanya penuh perasaan campur aduk begini. Semua dikarenakan satu mata kuliah yang diwajibkan oleh Wageningen University bernama Nutrient Dynamic.
Ceritanya, selama enam minggu periode kuliah ada tema tiap minggu yang akan dibahas terkait dengan isu pakan dan nutrisi ternak. Kuliah dari dosen tamu diadakan setiap awal minggu. Ahli yang didatangkan dari lembaga riset, industri, juga professor emeritus mengisi materi interaktif dengan memberikan satu scientific paper sebelum pertemuan. Kami para mahasiswa harus berpartisipasi aktif dalam diskusi untuk membahas proposisi yang diajukan setiap kelompok. Setelah kuliah selesai, dalam satu minggu kami diberi satu modul kasus yang harus dicari solusinya melalui mathematic modelling.
Kurang lebih ritme tiap minggu seperti ini: diskusi kelompok sebelum kelas membahas preposisi lanjut kuliah dan diskusi interaktif, kemudian sisa hari di minggu tersebut untuk praktikum modelling. Tidak berhenti sampai menjawab pertanyaan, kami harus menulis abstrak berdasarkan jawaban dari modul yang diberikan. Setiap Jumat sore, dosen koordinator akan mengirimkan koreksi abstrak. Ini yang membuat hati dag dig dug tak karuan. Pasalnya, sejak menerima hasil koreksi abstrak pertama sudah membuat saya lemas melihat komentar dan coretan dari Pak Dosen.
Sesungguhnya saya suka dan merasa tertantang dengan berbagai kasus yang ada mata kuliah ini meski beban materinya berat. Pada minggu kelima misalnya, ada contoh kasus yang berkaitan dengan pakan untuk penggemukan anak sapi. Kami diminta untuk menyusun ransum sesuai dengan kriteria anak sapi yang akan dipotong seperti standar bobot hidup, persentasi lemak dan protein tubuh. Perintah pertama dijalankan dengan mulus. Kemudian, kami harus memodifikasi pakan karena ada kasus Food and Mouth Disease sehingga muncul larangan transportasi ternak. Perkiraan larangan dicabut adalah 105 hari, jadi peternak harus menjaga kondisi ternak agar tetap sesuai standar pemotongan. Baiklah, secara teori tingal mengurangi jumlah pakan untuk menjaga tingkat pertumbuhan se-minimal mungkin. Ternyata, di nomor selanjutnya disebutkan bahwa larangan sudah dicabut sebulan kemudian dan peternak harus mengubah strategi pakan agar anak sapi tersebut dapat dipotong secepatnya.
Menariknya, Pak Dosen mengadakan kompetisi dari simulasi kasus tersebut. Beliau menyiapkan hadiah khusus bagi mereka yang bisa meraih profit tertinggi. Jadi setelah formulasi ransum kami menghitung keuntungan yang bisa diraih berdasarkan data harga pakan, harga jual ternak per bobot potong, juga penalti apabila tidak memenuhi standar yang ditentukan. Di sini saya merasa seperti peternak sungguhan. Secara teori, kami dituntut mengaplikasikan pengetahuan yang sudah didapat di kelas.
Contoh kasus lainnya yang sempat dibahas antara lain simulasi manfaat asam amino untuk mengikat anti nutrisi, kompetisi bakteri dan susbtrat di rumen, aplikasi pakan dari tebu untuk sapi perah, mobilisasi mineral di ayam petelur, dan metode pengukuran penyerapan asam amino. Mata kuliah ini diramu padat berisi, bukan hanya dari ilmu nutrisi namun juga isu terbaru dari hasil penelitian terkini. Seperti saat belajar tentang mobilisasi mineral, kasus tersebut dikaitkan dengan isu lingkungan yaitu tingginya emisi fosfor dari peternakan ayam petelur. Jadi, sebagai calon peramu pakan hewan kami juga harus tahu dampaknya secara luas.
Mengakhiri periode, tentunya ujian sudah menanti. Apakah suka dengan mata kuliah cukup membuat saya lolos dan meraih nilai cemerlang? Jawabannya belum cukup. Sepertinya Tuhan tahu kalau saya masih penasaran dengan mata kuliah satu ini, alhasil ada bagian ujian yang harus saya ulang di akhir semester nanti. Secara akumulasi nilai dari scientific discussion, modelling, dan ujian sudah berada di atas standar lolos. Namun ada sebagian pertanyaan yang belum bisa dijawab dengan baik, jadi saya diberi kesempatan kedua. Artinya sebelum pindah tempat untuk internship, saya masih harus tinggal di Wageningen untuk menyelesaikan kasus yang tertunda...yeaahahaha!   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya